Sesuai dengan karakteristik
wawancara, pada dasarnya aspek-aspek wawancara yang menjadi sasaran penilaian
itu dapat dibedakan atas dua kelompok. Pertama, adalah kelompok aspek wawancara
yang bersifat kebahasaan. Dan kedua, adalah kelompok aspek wawancara yang
bersifat nonkebahasaan.
Kelompok aspek wawancara pertama,
yaitu bersifat kebahasaan, meliputi: (1) ucapan atau lafal, (2) tekanan kata,
(3) nada/irama, (4) persendian, (5) kosakata/ungkapan, dan (6) variasi/struktur
kalimat. Adapun kelompok aspek wawancara nonkebahasaan, meliputi aspek: (1)
kelancaran, (2) penguasaan materi, (3) keberanian, (4) keramahan, (5)
ketertiban, (6) semangat, dan (7) sikap.
Agar kita dapat member nilai “benar”
terhadap masing-masing aspek wawancara tersebut, kita harus membuat pedoman
penilaian berupa pertanyaan-pertanyaan bantu penilaian. Sebagai bahan
pertimbangan atau bahan perbandingan dalam rangka kita mengembangkan pertanyaan
bantu penilaian, paparan berikut ini baik kita perhatikan.
1)Aspek Ucapan/ Lafal
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat
dipakai:
a.Sangat
jelaskah ucapannya sehingga maksudnya sangat mudah dipahami?
b.Sama
sekalikah tidak terpengaruh ucapan bahasa daerah sehingga pembicara tidak
dikenali sebagai penutur bahasa daerah tertentu?
c.Apakah
ucapannya kurang jelas, sehingga maksud pembicaraannya agak sukar dipahami?
d.Masih adakah
pengaruh ucapan bahasa daerah, sehingga pembicara dapat dikenali sebagai
penutur bahasa daerah tertentu?
e.Tidak jelas sama sekalikah ucapannya sehingga
maksud tuturannya tidak bias ditangkap?
Saya mencoba membandingkan
awalan meng- dalam TBBBI dengan
pendapat awalan Me- dari bapak Djoko Kentjono.
Menurut TBBBI meng- mewakili semua alomorf karena
bentuk meng- terdapat dimuka dasar
yang diawali dari keenam vokal Indonesia dan dengan konsonan /k/, /g/, /h/, /x/
sehingga meng- merupakan bentuk yang paling luas distribusinya. Kita dapat
lihat dari kaidah morfofonemik untuk prefiks meng- yaitu:
Bentuk meng- tetap
menjadi meng- /m∂η/ jika dasar
dimulai dengan fonem /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /∂/, /k/, /g/, /h/, atau /x/,
kecuali fonem /k/ luluh menjadi /η/.
Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin
(1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses,
dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. Hidup tidak
statis, melainkan bersifat dinamis. All is in the making, semuanya dalam
perkembangan. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya
pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat, khusunya
malalui pendidikan.
Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat
instrumentalisme. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi
bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju
pengalaman. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan
kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago.
Di lembaga ini, Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur
komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. Dengan model
tersebut, siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk
memantapkan kemampuannya dan keahliannya.
2.Tujuan Pendidikan
Sains, menurutnya, tidak mesti diperoleh dari buku-buku, melainkan harus
diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. Dewey
demikian lekat dengan atribut learning by doing. Yang dimaksud di sini
bukan berarti ia menyeru anti intelektual, tetapi untuk mengambil kelebihan
fakta bahwa manusia harus aktif, penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi.
Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error.
Akhirnya, pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju
kedewasaan, tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan
kelanjutan penerang hidup. Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan
cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi
pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal.
Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan, Dewey berpendapat bahwa dalam
proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Siswa
harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru.
Begitu pula, guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus
akan pengetahuan. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai
manusia. Yakni, kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan
kelompok serta pengalaman bekerja sama. Dasar demokrasi adalah kebebasan
pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk
menghasilkan kemerdekaan inteligent.
Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau
rangkaian kesatuan pengalaman, yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman
menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada
hubungan antara pengetahuan dan kesadaran, dan kembali lagi ke pendidikan
sebagai proses sosial.
3.Teori Demokrasi dan Kepemimpinan Demokrasi
Menurut John Dewey (1935), demokrasi bukan hanya sekedar kebebasan dalam
tindakan, namun terutama kebebasan kecerdasan (freedom of intelligence). Dewey
mengatakan bahwa : unless freedom of action (is guided) by intelligence, its
manifestation is almost sure to result in confusion and disorder (Dewey, 1935,
dalam Wraga, 1998). Oleh karena itu komitmen demokrasi untuk membebasan
kecerdasan lebih fundamental daripada kebebasan dalam bertindak.
Ciri dari suatu kelompok yang demokratis adalah adanya unsur-unsur
popular sovereignty, freedom, equality, individualism dan social
responsibility. (Wraga, 1998). Secara sederhana, popular sovereignty dapat
diartikan memutuskan suatu permasalahan berdasarkan kesepakatan bersama antara
anggota kelompok.
Dalam terminasi Dewey, freedom diartikan sebagai kebebasan dalam melakukan
suatu tindakan, yang didasari oleh kebebasan dalam berpikir. Untuk dapat
melakukan suatu tindakan seseorang harus memiliki kemampuan untuk berpikir dan
berbicara secara bebas. Jadi kemampuan melakukan refleksi dan komunikasi
merupakan prasyarat (prerequisite) untuk melakukan tindakan demokratis yang
cerdas (Wraga,1998). Prinsip equality dalam sistem demokrasi menunjukkan bahwa
setiap anggota kelompok adalah setara. Tidak ada anggota kelompok yang dapat
mengklaim bahwa dirinya harus diperlakukan lebih istimewa dibandingkan anggota
yang lain. Integritas dari setiap anggota sebagai individu yang bebas sangat
dihargai. Setiap individu mempunyai hak untuk berpendapat dan bertindak tanpa
intimidasi atau tekanan dari anggota yang lain.
4.Pendidikan
Demokrasi Dalam Rangka Integrasi Bangsa
John Dewey filosof pendidikan yang melihat hubungan yang begitu erat
antara pendidikan dan demokrasi. pendidikan tidak dapat dilepaskan dari
penyelenggaraan negara yang demokratis. Pendidikan demokrasi sebagai upaya
sadar untuk membentuk kemampuan warga negara berpartisipasi secara bertanggung
jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting.
Dengan tingginya partisipasi rakyat dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, maka dapat mendorong pada terwujudnya pemerintah yang transparans
dan akuntabel. Pemerintah yang demikian merupakan pemerintah yang demokratis,
dekat dengan rakyat sehingga menjadi perekat bangsa.
Sedangkan pentingnya pendidikan demokrasi antara lain dapat di lihat dari nilai
– nilai yang terkandung di dalam demokrasi. Nilai-nilai demokrasi dipercaya
akan membawa kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dalam semangat
egalitarian dibandingkan dengan ideologi non-demokrasi.
Menurutsaya teori John Dewey
telah diterapkan oleh sebagian besar sekolah, namun sekolah tidak sepenuhnya
menerapkan teori John Dewey ini yang menggunakan konsep pendidikan demokrasi,
kita lihat dari pandangan Dewey tentang pengetahuan tidak hanya didapat dari
buku-buku sains melainkan pengetahuan bias didapatkan dari pengalaman hidup,
menurut Dewey pengalaman adalah salah satu kunci dalam filsafat
instrumentalisme. Dan pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang
mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup
dalam lingkungan sosial dan fisik.
Sedangkan dalam dalam sekolah ilmu pengetahuan banyak dicari dengan
buku-buku sains yang dibantu dengan tenaga pendidik untuk memberikan ilmu dari
buku tersebut sekaligus memberikan pengalaman hidup yang telah dialami sebagai
bahan ajaran tambahan diluar KBM. Karena di sekolah bukan hanya belajar tapi
kita juga mendapat pendidikan agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dan mengenai konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Dewey bahwa dalam
proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Siswa
harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru.
Begitu pula, guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus
akan pengetahuan. Konsep ini sudah banyak di lakukan oleh sekolah-sekolah dan
konsep ini menyempurnakan konsep Bloom yang membagi pendidikan menjadi tiga
domain( kognitif, afektif, dan psikomotor). Dengan konsep ini pendidikan akan
menjadi lebih baik, khususnya di Indonesia, karena seorang siswa
juga berhak mengeluarkan pendapat apabila ia kurang sepaham dengan apa yang
telah disampaikan oleh gurunya, selama argument yang dia berikan logis.
Selamat idul fitri,
bumi Maafkan kami Selama ini Tidak semesa-mena Kami memperkosamu
Selamat idul fitri, langit Maafkanlah kami Selama ini Tidak
henti-hentinya Kami mengelabukanmu
Selamat idul fitri, mentari Maafkanlah kami Selama ini Tidak bosan-bosan Kami mengaburkanmu
Selamat idul fitri, laut Maafkanlah kami Selama ini Kami mengeruhkanmu
Selamat idul fitri, burung-burung Maafkanlah kami Selama ini Memberangusmu
Selamat idul fitri, tetumbuhan Maafkanlah kami Selama ini Tidak puas-puas Kami menebasmu
Selamat idul fitri, para pemimpin Maafkanlah kami Selama ini Tidak habis-habis Kami membiarkanmu
Selamat idul fitri, rakyat
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak sudah-sudah
Kami mempergunakanmu.
A Mustofa Bisri dalam menulis sebuah puisi
memiliki gaya sendiri dibandingkan dengan teman satu alirannya D Zawawi Imran,
Taufik Ismail, dan Danarto, gaya penulisannya lebih apa adanya dan linear
bahkan terkadang bisa terlihat lugu dan berubah menjadi ganas. Menjadi sangat mungkin, jika untuk mengulas
antologi Gus Mus membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menyelesaikannya. A
Mustofa Bisri Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10
Agustus 1944, dari keluarga santri. Kakeknya, Kyai Mustofa Bisri adalah seorang
ulama. Demikian pula ayahnya, KH Bisri Mustofa, yang tahun 1941 mendirikan
Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, adalah seorang ulama karismatik termasyur.
Achmad Mustofa Bisri, akrab dipanggil Gus Mus ia adalah Kiyai, penyair,
novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini telah memberi warna
baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama.
Dia telah
menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi. Justru melalui karya budayanyalah, Gus
Mus sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap budaya yang berkembang
dalam masyarakat. Gus Mus adalah seorang kyai dengan
kesimpulan sudut pandang manusia sehari-hari: kehidupan sekelilingnya,
perjalanan hidupnya, ritual religiusnya dan sebagainya.Tidak jarang akan
ditemukan romantisme religiusitas dalam puisinya.
Saya
mencoba menganalisis dari bentuk dan struktur fisik puisi “Selamat Idul Fitri” dimulai dari perwajahan puisi (tipografi)
didalam puisi ini digambarkan setiap satu larik tidak selalu mencerminkan suatu
pernyataan namun setiap satu bait mempunyai suatu makna.
Selamat idul fitri,
bumi Maafkan kamilarik atau baris Selama iniBait Tidak semesa-mena Kami memperkosamu
Diksi adalah pemilihan kata yang digunakan oleh penyair dalam puisinya.
Kata ditempatkan sebagai hal yang vital dalam sajak sebab melalui kata penyair
mampu menyampaikan pikiran-pikiran dan perasaan atau momen puitiknya meskipun
dengan ketidaklangsungan ekspresi dan bersifat arbitrer. Pemilihan kata juga
berkaitan erat dengan makna, keselarasan bunyi dan urutan kata, puisi “Selamat Idul Fitri” karya A Mustofa
Bisri seperti dibawah ini.
Selamat
idul fitri, laut Maafkanlah kami Selama ini Kami mengeruhkanmu
Selamat
idul fitri, burung-burung Maafkanlah kami Selama ini Memberangusmu
....................
Mustofa Bisri menggambarkan kami lirik sebagai objek yang berbeda
pada setiap baitnya, dan semua objeknya merasa bersalah. Dan saat puisi ini
dibaca dapat membuat makna pada pembacanya bahwa rasa bersalah yang digambarkan
dalam puisinya adalah rasa yang sungguh-sungguh dan teramat merasa bersalah.
Selamat
idul fitri, para pemimpin Maafkanlah kami Selama ini Tidak habis-habis Kami membiarkanmu
Selamat
idul fitri, rakyat
Maafkanlah
kami
Selama
ini
Tidak
sudah-sudah
Kami
mempergunakanmu.
...............................
Kutipan puisi
diatas terlihat jelas A Mustofa Bisri juga sangat sadar dengan memberikan efek
lebih tajam pada kritik sosial yang dikandungnya. Kami lirik berubah menjadi objek seorang rakyat yang meminta maaf
pada pemimipinnya, namun kemudian dirubah pada bait selanjutnya kami lirik menjadi objek seorang
pemimpin yang meminta maaf kepada rakyatnya. Ini merupakan suatu kritik sosial
yang elegan dan indah yang mampu Gus Mus ungkapkan melalui bahasanya yang
sederhana dan lugu. Gus Mus juga menggunakan repetisi dalam puisinya yang
digunakan dari awal hingga akhir puisi, yaitu pengulangan kata “Selamat idul fitri”,
“Maafkanlah kami”,
yang digunakan penyair dari awal hingga akhir puisi, memberikan efek tersendiri
pula. Yaitu memperdalam rasa bersalah kami-lirik, sekaligus memperkuat ironi
sosial yang dikedepankannya.
Imaji adalah kata atau kelompok kata yang dapat mengungkapkan
pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat
mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti
yang dialami oleh penyair. Seperti pada puisi “Selamat Idul Fitri” ini memiliki beberapa imaji yang diungkapkan
oleh penyair untuk pembacanya.
Citraan
juga dapat bersifat persepsi dan mewakili sesuatu yang tidak nampak, seperti
yang diungkapkan oleh A Mustofa Bisri dalam puisi “Selamat
Idul Fitri” berupa citraan perasaan yang menggambarkan perasaan kami lirik sebagai objek yang sangat
merasa bersalah, dan tulus ingin meminta maaf.
Imaji Perasaan
Selamat idul fitri,
para pemimpin Maafkanlah kami Selama ini Tidak habis-habis Kami membiarkanmu
Selamat idul fitri,
rakyat
Maafkanlah kami
Selama ini
Imaji Perasaan
Tidak
sudah-sudah
Kami mempergunakanmu.
………
Selanjutnya masalah bahasa figuratif
(majas), Perrine menyatakan bahwa bahasa figurative dipandang lebih efektif
untuk menyatakan apa yang dimaksud oleh penyair karena (1) bahasa figuratif
mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) bahasa figuratif adalah cara
untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang abstrak jadi
konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca, (3) bahasa figuratifadalah cara menambah intensitas perasaan pada
penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair, (4) bahasa figuratif
adalah cara untuk mengonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara
menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat.
Pada puisi “Selamat Idul Fitri” penyair dalam puisinya kita dapat membaca kata bumi, langit, mentari,
laut,burung-burung, tetumbuhandapat juga dibaca sebagai metafor.
Dengan cara itu, Mustofa tidak hanya mengacu pada pengertian leksikalnya,
tetapi pada pengertian konotatifnya, pada makna kontekstualnya. Maka sebagai
hasil kerja kepenyairan puisi “Selamat
Idul Fitri” membuka berbagai kemungkinan makna. Dengan kata lain, di sini
makna memiliki kemungkinan untuk memperluas cakupan yang dikandungnya. Dalam
puisi Mustofa Bisri ini juga dapat kita baca secara personifikasi, karena
benda-benda yang digambarkan seperti bumi,
langit, mentari, laut seolah-olah bisa berprilaku, berperasaan, dan
memiliki perasaan seperti manusia.
Selamat idul fitri,
mentari Maafkanlah kami Selama ini Tidak bosan-bosan Kami mengaburkanmu
Dengan
ini Mustofa terlihat gaya pengucapannya tidak
berbunga-bunga dan tidak berupaya bercantik-cantik. Tetapi melalui kewajaran
dan kesederhanaan berucap atau berbahasa, yang tumbuh dari ketidakinginan untuk
mengada-ada. Bahasanya langsung, gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar
atau klise. Sebagai penyair, ia bukan penjaga taman kata-kata tetapi penjaga
dan pendamba kearifan.
Kemudian
berlanjut pada struktur batin puisi yang dimulai dari tema atau makna dalam
puisi “Selamat Idul Fitri” terlihat
dengan jelas mempunyai tema “permohonan
maaf” terlihat jelas kata “maafkanlah
kami” diulang-ulang setiap baitnya sehingga penyair ingin menegaskan ada
penyesalan dan permohonan maaf yang sungguh-sungguh.
Selamat idul fitri,
bumi Maafkan kami ……
Selamat idul fitri,
langit Maafkanlah kami ………
Selamat idul fitri,
mentari Maafkanlah kami …….
Puisi-puisi
Mustofa Bisri seakan-akan memiliki rasa yang sunyi walaupun kita dapat
merasakan dimensi sosial yang terkandung hal ini dikarenakan pada awalnya Mustofa
Bisri adalah seorang ulama, sehingga pandangan dunianya merefleksikan kesadaran
relijiusnya. Dalam konteks ini, hal yang bersifat individual dan sosial
merupakan suatu kesatuan yang utuh dalam puisinya, bukan karena dirinya
merupakan anggota sosial, tetapi karena Mustofa harus mengekspresikan dirinya
secara sosial. Demikianlah ibadah yang personal pun memberikan dampak sosial
pada setiap puisinya yang akhirnya terlihat memiliki rasa sunyi.
Nada dalam puisi ini penyair membuat
sikap terhadap pembacanya dengan menggunakan nada memohon. memohon dengan nada
yang lembut tidak dengan nada yang keras, sehingga dalam puisi “Selamat Idul Fitri” A Mustofa Bisri
mengajak pembaca untuk melihat perlakuan manusia terhadap sekelilingnya yang
tak pernah disadarinya.
Terakhir hal yang saya kaji dalam
puisi “Selamat Idul Fitri” adalah
amanat. Amanat yang ingin disampaikan oleh penyair dalam puisi ini adalah
bagaimana kita lirik sebagai objek
tidak hanya memohon maaf pada manusia saja yang sering dilakukan orang pada
umumnya, kita juga harus melihat sekeliling kita diluar hal tersebut (bumi,
laut, langit dsb) yang tanpa disadari banyak memiliki kesalahan. Maka dari itu kita lirik yang dibuat penyair
berubah-ubah objeknya untuk menyampaikan permohonan maafnya. Hal yang kecil
yang sering dilupakan seseorang dapat diangkat oleh Mustofa dengan menarik,
seperti dalam puisi lainnya sebagai berikut,
Selamat Idul Fitri, mata
Maafkanlah aku selama ini
Kau hanya kugunakan melihat kilau comberan
Selamat Idul fitri telinga
maafkanlah aku, selama ini
Kau hanya kusumpali rongsokan-rongsokan kata
Selamat Idul fitri, mulut
Maafkanlah aku, selama ini
Kau hanya kujejali dan kuumbat muntahan
Onggokan-onggokan kotoran
……………
Sangat
tergambar jelas, bahwa Mustofa ingin menyadarkan hati pembacanya untuk lebih
jeli melihat hal kecil sekitarnya yang sering dilupakan.