Sabtu, 14 April 2012

Penilaian Pelaksanaan Wawancara dan Pidato


2.1Penilaian Pelaksanaan Wawancara
a.        Aspek yang dinilai dari wawancara:
            Sesuai dengan karakteristik wawancara, pada dasarnya aspek-aspek wawancara yang menjadi sasaran penilaian itu dapat dibedakan atas dua kelompok. Pertama, adalah kelompok aspek wawancara yang bersifat kebahasaan. Dan kedua, adalah kelompok aspek wawancara yang bersifat nonkebahasaan.
            Kelompok aspek wawancara pertama, yaitu bersifat kebahasaan, meliputi: (1) ucapan atau lafal, (2) tekanan kata, (3) nada/irama, (4) persendian, (5) kosakata/ungkapan, dan (6) variasi/struktur kalimat. Adapun kelompok aspek wawancara nonkebahasaan, meliputi aspek: (1) kelancaran, (2) penguasaan materi, (3) keberanian, (4) keramahan, (5) ketertiban, (6) semangat, dan (7) sikap.
            Agar kita dapat member nilai “benar” terhadap masing-masing aspek wawancara tersebut, kita harus membuat pedoman penilaian berupa pertanyaan-pertanyaan bantu penilaian. Sebagai bahan pertimbangan atau bahan perbandingan dalam rangka kita mengembangkan pertanyaan bantu penilaian, paparan berikut ini baik kita perhatikan.
1)    Aspek Ucapan/ Lafal
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.    Sangat jelaskah ucapannya sehingga maksudnya sangat mudah dipahami?
b.   Sama sekalikah tidak terpengaruh ucapan bahasa daerah sehingga pembicara tidak dikenali sebagai penutur bahasa daerah tertentu?
c.    Apakah ucapannya kurang jelas, sehingga maksud pembicaraannya agak sukar dipahami?
d.   Masih adakah pengaruh ucapan bahasa daerah, sehingga pembicara dapat dikenali sebagai penutur bahasa daerah tertentu?
e.    Tidak jelas sama sekalikah ucapannya sehingga maksud tuturannya tidak bias ditangkap?

2)    Aspek Tekanan
Dalam bahasa Indonesia, tekanan pada suku kata keberapa tidaklah menjadi soal, karena pergeseran letak tekanan kata ini tidak mempengaruhi artinya. Dalam hubungannya dengan keterampilan berbicara, keras dan nyaringnya suara ternyata lebih penting untuk diperhatikan. Keras dan nyaringnya suara ternyata sangat berpengaruh pada kejelasan pesan pembicaraan. Akan tetapi, kalau memang ada pengaruh tekanan kata bahasa daerah atau bahasa asing, wicaranya akan terasa aneh atau janggal. Hal ini merupakan petunjuk kadar kebakuan bahasa yang dipakai, dan bukan kadar kejelasan arti yang didukungnya.
Adapun pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai adalah:
a.       Cukup keras dan nyaringkah wicaranya sehingga mudah sekali ditangkap maksudnya?
b.      Kurang keras dan kurang nyaringkah wicaranya sehingga sukar ditangkap maksudnya?
c.       Terlalu keraskah suaranya, sehingga menimbulkan gangguan komunikasi?
d.      Sangat anehkah wicaranya karena banyaknya pengaruh tekanan bahasa daerah?
e.       Agak anehkah wicaranya karena ada sedikit pengaruh tekanan kata bahasa daerah?
3)    Nada/ Irama
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Terlalu tinggikah nada wicaranya?
b.      Terlalu rendahkah nada wicaranya?
c.       Adakah digunakan variasi nada yang wajar?
d.      Sangat kurangkah  penggunaan variasi nada, sehingga wicaranya kedengaran bernada tunggal atau monoton?
e.       Adakah keanehan penggunaan nada/irama, sehingga wicaranya terdengar lucu?
4)    Persendian
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Tidak adakah kesalahan penempatan jeda dalam kalimat, sehingga maksud kalimat jelas sekali?
b.      Adakah kesalahan penempatan jeda sehingga maksud kalimatnya agak kabur?
c.       Banyakkah kesalahan penempatan jeda, sehingga maksud kalimatnya sama sekali tidak bias dipahami?
d.      Terlalu banyakkah kesalahan penempatan jeda, sehingga maksud kalimatnya sama sekali tidak dapat dipahami?
e.       Terlalu cepatkah wicaranya, sehingga tidak dikenali penempatan jedanya?
5)    Kosakata/ Ungkapan
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Tidak ada sama sekali kesalahan atau kekurangtepatan memilih kata, sehingga serasi dengan konteks kalimatnya?
b.      Adakah kesalahan pemilihan kosakata/ungkapan, sehingga kalimatnya terasa janggal?
c.       Banyakkah kesalahan pengguna kosakata/ungkapan, sehingga pembicaraannya sukar dipahami?
d.      Agak terbataskah kosakata/ungkapan yang digunakan pembicara, sehingga pembicaraannya sukar dipahami?
e.       Sangat terbataskah kosakata/ungkapan yang digunakan, sehingga proses komunikasi sangat terhambat?
6)    Variasi/ Struktur kalimat
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Tidak ada sama sekalikah kesalahan struktur kalimat?
b.      Adakah digunakan variasi struktur kalimat sehingga wicara selalu segar?
c.       Tidak adakah penggunaan variasi struktur kalimat, sehingga wicaranya membosankan?
d.      Adakah kesalahan-kesalahan struktur kalimat, sehingga ada gangguan komunikasi?
e.       Terlalu banyakkah kesalahan struktur kalimat, sehingga komunikasi benar-benar terganggu?
7)    Kelancaran
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Lancar sekalikah wicaranya, sehingga proses komunikasi agak terganggu?
b.      Agak kurang lancarkah wicaranya, sehingga proses komunikasinya benar-benar terganggu?
c.       Sering ragukah/ sering berhentikah dalam berbicara?
8)    Penguasaan isi/ materi Wicara
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Kuat sekalikah/ agak kurangkah/ cukup kuatkah/ sangat kurangkah penguasaan isi materi?
b.      Terpaksa berhentikah ia dalam berbicara, karena sama sekali tidak menguasai isi materi?
9)    Keberanian
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.        Sangat memadaikah keberaniannya, sehingga wicaranya sangat lancar?
b.      Memadaikah keberaniannya, sehingga wicaranya tidak mengalami hambatan?
c.       Cukup memadaikah keberaniannya, sehingga wicaranya cukup lancar?
d.      Kurang memadaikah keberaniannya, sehingga wicaranya kurang lancar?
e.       Sangat kurang memadaikah keberaniannya, ssehingga wicaranya sangat kurang lancar?
10)  Keramahan
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Sangat ramahkah ia, sehingga tercipta hubungan yang sangat akrab dan hangat antara pewawancara dan yang diwawancarai?
b.      Cukup ramahkah ia, sehingga tercipta hubungan yang cukup akrab dan hangat antara pewawancara dan yang diwawancarai?
c.       Kurang ramahkah ia, sehingga tercipta hubungan yang kurang hangat antara pewawancara dan yang diwawancarai?
d.      Sangat kurang ramahkah ia, sehingga tercipta hubungan yang sangat kurang akrab dan sangat kurang hangat antara pewawancara dan yang diwawancarai?
e.       Angkuh sekalikah ia, sehingga hubungan antara pewawancara dan yang diwawancarai  renggang sekali karena pendengarannya apatis?
11)  Ketertiban
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Tertib sekalikah ia menyampaikan pembicaraannya, sehingga sangat mudah dipahami?
b.      Cukup tertibkah ia menyampaikan pembicaraannya, sehingga wicaranya cukup mudah dipahami?
c.       Kurang tertibkah ia menyampaikan pembicaraannya, sehingga secara keseluruhan wicaranya kurang bisa dipahami?
d.      Kacau-balaukah ia menyampaikan pembicaraannya, sehingga wicaranya sukar sekali dipahami?
e.       Sangat kacau-balaukah ia menyampaikan pembicaraannya, sehingga wicaranya hampir sama sekali tidak dapat dipahami?
12)  Semangat
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Sangat tinggikah semangatnya, sehingga suasana pembicaraan sangat bergairah dan hidup?
b.      Cukup tinggikah semangatnya, sehingga suasana pembicaraan cukup bergairah dan hidup?
c.       Kurang tinggikah semangatnya, sehingga suasana pembicaraan kurang bergairah dan hidup?
d.      Sangat kurang tinggikah semangatnya, sehingga suasana pembicaraan begitu lesu dan mati?
e.       Tidak ada sama sekalikah semangatnya, sehingga suasana pembicaraan tidak membuahkan rasa komunikasi sama sekali?
13)  Sikap
Pertanyaan bantu penilaian yang dapat dipakai:
a.       Sangat seringkah ia melakukan gerak-gerik yang tidak menunjang wicaranya (bermain kancing baju, menggigit pulpen)?
b.      Terlalu banyakkah menggunakan gerak tangan selama berbicara?
c.       Adakah dia bergerak tanpa maksud apa-apa?
d.      Adakah ia maju-mundur dalam posisi duduk tanpa maksud apa-apa?
e.       Adakah ia terlalu banyak melihat ke luar ruangan, langit-langit, jendela, pintu, dsb?



2.2 Penilaian Wawancara Secara Aspektual
Jika kita seorang guru dan harus mengamati jalannya wawancara yang dilakukan oleh murid kita, maka menggunakan penilaian aspektual saja, yang artinya menilai salah satu aspek tertentu saja.
Contoh jika kita menilai aspek kosakata/ ungkapan dalam wawancara. Sebelum kita menilai bagaimana bagaimana kosakata/ungkapanyang dipakai oleh pewawancara dan yang diwawancarai, Kita harus mengukur aspek itu dengan angka-angka dengan memperhatikan pernyataan berikut:
1)     Tidak adakah sama sekali kesalahan pemilihan kata?
2)     Adakah kesalahan, banyakkah kesalahan, agak terbataskah, sangat terbataskah kosakata/ ungkapannya?
Untuk memudahkan kita melaksanakan penilaian aspektual kegiatan wawancara, kita sebaiknya membuat instrumen penilaian. Dalam instrumen penilaian atau lembar penilaian aspektual diskusi harus dicantumkan bagian-bagian (komponen-komponen): (1) Nama Kelompok Wawancara, (2) Aspek yang Dinilai, (3) Nama Penilai, (4) Nilai, (5) Patokan Penilaian, (6) Penjelasan, (7) Tanda Tangan Penilai.  

2.3   Penilaian Pidato
Andaikan anda melihat dan mendengarkan pidato. Sadar atau tidak, anda akan menilai pidato yang anda lihat dan anda dengar itu. Lalu, anda membuat simpulan. Salah satu simpulan berikut mungkin merupakan salah satu simpulan anda.
1.      Pidato yang anda lihat dan anda dengar itu sangat berbobot, cukup menarik, dan sangat penting, serta sangat berguna.
2.      Pidato yang anda lihat dan anda dengar itu cukup berbobot, cukup menarik dan cukup penting serta cukup berguna.
3.      Pidato yang anda lihat dan anda dengar itu kurang berbobot, kurang menarik, dan kurang penting, serta kurang berguna.
4.      Pidato yang anda lihat dan anda dengar itu tidak berbobot, tidak menarik, dan tidak penting, serta tidak berguna.
5.      Pidato yang anda lihat dan anda dengaritu sangat tidak berbobot, sangat tidak menarik, dan sangat tidak penting, serta sangat tidak berguna.
Di sini anda diajak untuk memahami perihal penilaian pidato dan terampil menilai pidato. Dengan pemahaman dan keterampilan itu, semua simpulan yang tersebut di atas dapat dijelaskan berdasarkan prinsip-pinsip penilaian pidato, bukan sekedar berdasarkan kesan atau impresi. Jika prinsip-prinsip sudah anda pakai dasar, penilaian anda tentu sudah berciri sistematis atau sudah mengikuti sistem penilaian yang bersifat akademis.
            Untuk mendapatkan pemahaman dan keterampilan menilai pidato, mulailah dengan memanfaatkan pengetahuan anda tentang keahlian yang mendukung kinerja seorang orator, yang mencakup kinerja penguasaan materi, kinerja penguasaan bahasa, dan kinerja penguasaan panggung. Sejalan dengan itu, penilaian dapat diarahkan pada setiap kinerja tersebut. Jadi, ada penilaian kinerja penguasaan materi, penilaian kinerja penguasaan bahasa, dan penilaian kinerja penguasaan panggung. 

2.4 Penilaian Penguasan Materi
Pada aspek ini, evaluasi dikenakan pada penguasaan materi isi pidato. Jabaran penilaian didasarkan pula pada jabaran aspek materi yang anda nilai. Penilaian dapat dinyatakan dengan kemungkinan-kemungkinan bentuk berikut.
  1. Bentuk skor, misalnya skor berentangan 1—10 atau 1—100
  2. Bentuk skala angka, misalnya skala 1—4 atau 1—5
  3. Bentuk verbal, misalnya tidak menguasai, kurang menguasai, cukup menguasai, sangat menguasai.
Ingatlah bahwa penilaian yang akademis tidak berupa penilaian global. Walaupun pada akhirnya dapat anda simpulkan, penilaian harus dikenakan pada aspek penguasaan materi yang lebih rinci. Dengan cara kerja demikian itu, rincian apa yang meski dinilai dalam pidato? Alternatif jawaban yang dapat dipegang adalah
  1. Sistematika materi
  2. Keterincian materi
  3. Kelengkapan atau kecukupan materi
  4. Relevansi materi
  5. Kontribusi materi
  1. Penilaian Penguasaan Bahasa
            Manfaatkan hasil pengalaman belajar anda dari kegiatan belajar. Pidato adalah wacana lisan yang disampaikan pada masa atau publik. Bahasa menjadi media utama dalam pidato. Penguasaan dan kemahiran bahasa dan berbahasa adalah modal dasar kemahiran seorang orator. Orator haruslah termasuk pengguna bahasa yang piawai. Orator adalah pengguna bahasa yang andal dan mampu memberdayakan bahasa untuk menampilkan orasi atau pidatonya.
            Pada penilaian aspek penguasaan bahasa, penilaian dapat dikenakan pada kemahiran berbahasa seorang pemandu secara terjabar dan terinci. Jabaran penilaian didasarkan pula pada jabaran aspek kemahiran berbahasa pidato yang dinilai. Seperti halnya pada penilaian aspek penguasaan materi, penandaan hasil penilaian pada aspek penguasaan bahasa juga dapat dinyatakan dengan kemungkinan-kemungkinan bentuk berikut: skor, bentuk skala angka, dan bentuk kualifikasi verbal.
            Ingatlah bahwa penilaian terhadap aspek kemahiran berbahasa yang akademis tidak berupa penilaian global. Penilaian harus dikenakan pada aspek penguasaan dan kemahiran bahasa dalam berpidato secara rinci.
            Dengan cara kerja penilaian seperti terurai di atas, anda akan bertanya apa saja yang harus dinilai dari kemahiran menggunakan bahasa dalam pidato? Ada sejumlah aspek kemahiran berbahasa dalam pidato yang anda nilai, yakni kemahiran-kemahiran berikut:
  1. Kemahiran menggunakan bahasa sesuai dengan prinsip kerja sama.
  2. Kemahiran menggunakan bahasa sesuai dengan prinsip sopan santun
  3. Kemahiran menggunakan kalimat yang gramatikal.
  4. Kemahiran menggunakan bentukan kata yang gramatikal.
  5. Kemahiran memilih dan menggunakan kata secara tepat.
  6. Kemahiran menggunakan ucapan secara fasih.
  7. Kemahiran meggunakan gaya bahasa secara tepat dan menarik. ken
Lalu nilailah setiap aspek kemahiran berbahasa tersebut dengan skala angka. Maka, dalam penilaian dapat anda gunakan format penilaian berikut.




Tabel penilaian:



Skala




No
Aspek Penguasaan Bahasa
1
2
3
4
5
1
Menggunakan bahasa sesuai dengan prinsip kerja sama





2
Menggunakan bahasa sesuai dengan prinsip sopan santun





3
Menggunakan kalimat yang gramatikal





4
Menggunakan bentukan kata yang gramatikal





5
Memilih dan menggunakan kata yang tepat





6
Menggunakan ucapan fasih





7
Menggunakan gaya bahasa dengan tetap dan menarik





Simpulan
:














































































  1.  Evaluasi Penguasaan Panggung
Penguasaan panggung dapat dievaluasi melalui penampilan diri orator di panggung atau di arena komunikasi massa. Pada aspek ini, mencakup hal-hal berikut:
  1. Tampiulan yang mebnampakan percaya diri.
  2. Arah hadap dan arah pandang yang tepat dan bervariasi
  3. Ekspresi wajah yang sesuai dengan makna tuturan
  4. Ekspresi wajah yang simpatik
  5. Gestur  yang sesuai dengan makna tuturan
  6. Pakaian yang serasi
Setiap jabaran aspek penampilan diri tersebut dapat anda evaluasi dengan skala angka. Maka, dalam evaluasi yang anda lakukan dapat menggunakan format berikut.

Tabel Penilaian
No
Aspek Penampilan Diri
Skala






1
2
3
4
5
1
Tampilan yang menampakkan percaya diri





2
Arah hadap dan pandang yang tepat dan bervariasi





3
Ekspresi yang sesuai dengan makna turunan





4
Ekspresi wajah yang simpatik





5
Gestur yang sesuai dengan makna turunan





6
Pakaian yang serasi





Simpulan







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar